AVIATREN.com – Industri penerbangan global mencatat penurunan jumlah penumpang untuk pertama kalinya sejak pemulihan pasca-pandemi Covid-19. Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah disebut menjadi faktor utama yang menekan permintaan perjalanan udara dunia.
Data terbaru dari International Air Transport Association (IATA) menunjukkan trafik penumpang global, yang diukur melalui Revenue Passenger Kilometers (RPK), turun 3,4 persen pada April 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini menjadi kontraksi pertama sejak industri penerbangan memasuki fase pemulihan setelah pandemi Covid-19.
Pada periode yang sama, kapasitas penerbangan global yang diukur melalui Available Seat Kilometers (ASK) juga turun 2,9 persen. Tingkat keterisian kursi (load factor) ikut melemah 0,4 poin persentase menjadi 83,1 persen.
Menurut IATA, penyebab terbesar pelemahan tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah.
Permintaan penerbangan maskapai-maskapai Timur Tengah tercatat anjlok hingga 46,6 persen akibat konflik yang berlangsung di kawasan tersebut.
Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, mengatakan dampak perang di Timur Tengah begitu besar sehingga menyeret kinerja industri penerbangan global secara keseluruhan.
“Penurunan permintaan sebesar 46,6 persen untuk maskapai-maskapai Timur Tengah akibat perang di kawasan tersebut begitu besar hingga menarik turun permintaan global sebesar 3,4 persen,” ujar Walsh dilansir Flight Global.
Selain Timur Tengah, Amerika Utara menjadi satu-satunya kawasan lain yang mencatat penurunan trafik penumpang, meski relatif kecil, yakni 0,3 persen.

Secara keseluruhan, permintaan perjalanan internasional turun 5,3 persen dibandingkan April tahun lalu. Namun IATA mencatat bahwa apabila Timur Tengah dikeluarkan dari perhitungan, trafik internasional sebenarnya masih tumbuh 1,9 persen.
Sementara itu, trafik domestik global tercatat relatif stabil, meski kapasitas penerbangan domestik meningkat 0,8 persen.
Harga avtur melonjak
Di tengah melemahnya permintaan, maskapai juga menghadapi tekanan dari lonjakan biaya operasional.
IATA mencatat harga bahan bakar jet (jet fuel) meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang April 2026.
Kenaikan harga avtur tersebut berpotensi mendorong tarif tiket pesawat lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Walsh mengatakan data jadwal penerbangan ke depan menunjukkan banyak maskapai mulai mengurangi kapasitas yang ditawarkan.
“Data jadwal penerbangan ke depan menunjukkan berkurangnya kapasitas. Ini mengindikasikan maskapai sedang menyeimbangkan antara tingginya biaya bahan bakar dan permintaan yang melemah,” kata Walsh.
Kargo masih tumbuh
Berbeda dengan bisnis penumpang, sektor kargo udara masih menunjukkan pertumbuhan positif.
Permintaan kargo global yang diukur melalui Cargo Tonne Kilometers (CTK) naik 4 persen dibandingkan April 2025.
Pertumbuhan tersebut terjadi meski kapasitas kargo turun 0,4 persen secara tahunan.
Namun, IATA mengingatkan bahwa pertumbuhan bisnis kargo saat ini menutupi tantangan yang lebih kompleks.
Konflik di Timur Tengah disebut masih mengganggu operasional sejumlah hub penerbangan utama di kawasan Teluk, sekaligus memengaruhi jalur perdagangan global dan kapasitas pada sejumlah koridor logistik penting.
“Beberapa bulan ke depan akan menjadi ujian bagi industri dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik dan biaya operasional yang tetap tinggi,” ujar Walsh.
