AVIATREN.com – Maskapai berbiaya hemat Citilink mencatatkan reaktivasi 15 pesawat hingga awal 2026. Seluruhnya merupakan Airbus A320 yang telah menjalani inspeksi menyeluruh sebelum kembali beroperasi.
Proyek tersebut mencakup satu engine overhaul, satu engine repair, enam auxiliary power unit (APU) overhaul, serta satu landing gear overhaul. Seluruh pekerjaan diselesaikan sesuai Turn Around Time (TAT) yang disepakati.
Dua unit A320 berregistrasi PK-GLL dan PK-GLY juga mendapatkan pengecatan special livery.
Seluruh pengerjaan reaktivasi dilakukan di hangar Garuda Maintenance Facility (GMF Aero Asia).
Seperti Garuda Indonesia, reaktivasi armada Citilink juga didukung kebijakan konsolidasi dan pendanaan melalui Danantara. Langkah ini bertujuan memperkuat kesiapan operasional maskapai dalam ekosistem Garuda Indonesia Group.
Dukungan pendanaan tersebut memungkinkan optimalisasi armada yang sebelumnya tidak aktif, sehingga maskapai dapat meningkatkan frekuensi dan kapasitas penerbangan.
2026: 20 pesawat tambahan
Untuk 2026, GMF menargetkan reaktivasi 20 pesawat Citilink, terdiri dari enam unit ATR72-600 dan 14 unit Airbus A320. Selain itu, direncanakan pula 12 engine overhaul dan enam APU overhaul.
Penambahan armada aktif ini diproyeksikan memperkuat segmen low-cost carrier (LCC) Citilink, khususnya pada rute domestik dengan permintaan tinggi.
Reaktivasi armada ini dilakukan setelah Citilink dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan operasional dan keuangan yang berdampak pada berkurangnya jumlah pesawat aktif.
Sejumlah unit sebelumnya sempat tidak beroperasi karena kebutuhan perawatan besar (heavy maintenance) maupun penyesuaian strategi bisnis pascapandemi. Dengan meningkatnya permintaan perjalanan udara domestik sepanjang 2025, optimalisasi armada menjadi langkah krusial untuk menjaga pangsa pasar di segmen maskapai berbiaya hemat (low-cost carrier/LCC).
Sebagai anak usaha Garuda Indonesia, Citilink memegang peran penting dalam melayani rute domestik dengan volume penumpang tinggi dan tarif kompetitif. Penambahan kembali pesawat aktif dinilai strategis untuk memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus meningkatkan frekuensi penerbangan di rute padat.
