Misi Bunuh Diri Heather Penney: Pilot F-16 Tanpa Senjata di Tragedi 9/11​

AVIATREN.com – Tiap kali mengingat tragedi 11 September 2001, ingatan kita pasti langsung tertuju pada runtuhnya menara kembar WTC. Saya pun dulu begitu. Tapi, ada satu penggalan sejarah dari hari itu yang selalu bikin bulu kuduk saya berdiri.

Ini adalah kisah tentang Heather “Lucky” Penney. Saat itu, ia adalah salah satu pilot pesawat tempur perempuan pertama di Garda Nasional Udara Amerika Serikat.

Pagi itu, langit Amerika benar-benar kacau. Tiga pesawat komersial sudah dibajak dan ditabrakkan ke target fatal. Tiba-tiba, radar menangkap satu ancaman lagi. Pesawat United Airlines Penerbangan 93 terdeteksi putar balik dan mengarah lurus ke Washington D.C. ​Targetnya sangat jelas. Kalau bukan Gedung Putih, ya Gedung Capitol.

Di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, kepanikan pecah. Penney dan komandannya, Kolonel Marc Sasseville, langsung berlari menuju jet tempur F-16 mereka. Tapi, ada satu masalah besar yang sangat mematikan. Jet tempur mereka sama sekali belum dipersenjatai.

​Memasang rudal dan peluru tajam butuh waktu setidaknya satu jam. Sementara itu, pesawat United Airlines 93 makin mendekat ke jantung ibu kota dengan kecepatan penuh. Sasseville akhirnya mengambil keputusan paling gila dan nekat. Mereka berdua harus mengudara saat itu juga, dengan jet kosong tanpa senjata.

​Misinya cuma satu: menjatuhkan pesawat komersial raksasa itu sebelum sampai ke Washington. Caranya? Menabrakkan jet F-16 mereka sendiri bak sebuah rudal hidup. Ya, ini murni misi bunuh diri.

​Saat bersiap di landasan, Sasseville menoleh ke arah Penney. Ia membagi target tabrakan agar pesawat itu benar-benar hancur.

​”Saya akan menabrak kokpitnya,” kata Sasseville. Penney tanpa ragu langsung menjawab akan menghantam bagian ekornya.

​Bayangkan beban mental Penney hari itu. Ia harus siap mati dengan menabrakkan jetnya ke pesawat yang berisi puluhan warga sipil sebangsanya sendiri. Mereka berdua mengudara dan langsung membelah langit Washington. Keduanya menyisir wilayah udara sambil bersiap untuk benturan terakhir yang mengakhiri nyawa mereka.

Lokasi jatuhnya United Airlines penerbangan 93 di Shanksville, Pennsylvania.

​Namun, benturan itu tak pernah terjadi. Penney dan Sasseville tidak pernah menemukan Penerbangan 93 di layar radar mereka. Pesawat komersial itu ternyata sudah jatuh lebih dulu. Pesawatnya menghantam sebuah lapangan kosong di Shanksville, Pennsylvania.

​Usut punya usut, para penumpang Penerbangan 93 yang sangat berani telah melawan balik para pembajak di kabin. Mereka mengorbankan nyawa sendiri agar pesawat itu tak pernah mencapai ibu kota.

​Sampai hari ini, Penney selalu menolak disebut sebagai pahlawan. Baginya, pahlawan sejati hari itu adalah para penumpang United 93.

​”Orang-orang di Penerbangan 93 itulah yang rela berkorban, sementara saya baru sekadar bersedia melakukannya,” ujar Penney mengenang momen kelam tersebut, sebagaimana dihimpun AVIATREN dari laporan History.