2017 Disebut Sebagai Tahun Teraman Sepanjang Sejarah Penerbangan Sipil

Video MH17 sesaat setelah ditembak jatuh milisi Ukraina beredar di YouTube.

AVIATREN.com – Tahun 2017 ditasbihkan sebagai tahun teraman sepanjang sejarah penerbangan komersil. Hal itu menyusul hasil riset yang dirilis oleh lembaga konsultan To70 yang berbasis di Belanda.

Menurut riset To70, hanya ada dua kecelakaan fatal yang terjadi sepanjang 2017, yang keduanya hanya melibatkan dua pesawat turboprop kecil. Total korban jiwa sepanjang 2017 juga mengecil, menjadi hanya 13 nyawa yang melayang.

Tahun 2017 lalu juga tercatat tidak ada pesawat penumpang jet yang mengalami kecelakaan di seluruh dunia.

Dua kecelakaan yang terjadi pada malam tahun baru 2018, yakni seaplane di Sydney yang menewaskan enam orang, dan Cessna Caravan di Kosta Rika yang menewaskan 12 orang, tidak dihitung karena bobot kedua pesawat di bawah 5,7 ton, batas bawah dalam laporan tersebut.

Pada 2016, menurut catatan To70, sebanyak 271 nyawa melayang dalam tujuh kecelakaan fatal, termasuk peristiwa Egyptair penerbangan Paris-Cairo yang menewaskan 66 orang.

Pada 2015, 471 orang meninggal dalam empat kecelakaan serius, termasuk maskapai Metrojet yang menewaskan 224 penumpang, dan Germanwings yang menewaskan 150 penumpang.

Sementara pada 2014, To70 mencatat ada 864 orang meninggal dalam lima kecelakaan, termasuk Malaysia Airlines MH370 dan MH17.

Adrian Young, konsultan penerbangan senior untuk To70 mengatakan, sulit untuk mempertahankan rekor ini ke depannya, karena dipengaruhi oleh faktor keberuntungan.

“Meski demikian, tingkat keamanan yang telah dicapai oleh penerbangan sipil tergolong luar biasa,” kata Young dikutip AVIATREN dari The Independent, Selasa (2/1/2018).

Young juga mengingatkan bahwa risiko kecelakaan akan tetap tinggi, sesuai dengan tingkat keseriusan yang terjadi dalam insiden yang tanpa korban jiwa, Young merujuk pada insiden lepasnya penutup mesin Air France A380 di Greenland pada September 2017 lalu. 

Potensi bahaya lain juga dikatakan bisa muncul dari peralatan elektronik yang dimasukkan ke bagasi pesawat. Jumlah baterai lithium-ion dalam perangkat elektronik yang berisiko menimbulkan api semakin meningkat, baterai jenis ini susah untuk dimatikan jika terbakar.

Advertisement