Ilustrasi Garuda Indonesia (Reuters)

AVIATREN.com - Maskapai Garuda Indonesia diprediksi tidak bisa menutup utangnya (break even) pada tahun ini. Untuk itu, garuda Indonesia akan menghitung ulang kinerja korporasi hingga akhir 2018.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala Mansury. Menurut Pahala, perhitungan ulang dilakukan karena mereka awalnya menargetkan bisa menutup kerugian (break even) dalam laporan keuangan mereka, namun belakangan tidak yakin target itu akan tercapai.

Melesetnya perhitungan Garuda Indonesia menurut Pahala salah satunya disebabkan karena harga bahan bakar dan depresiasi Rupiah.

“Tentunya dengan kondisi kenaikan bahan bakar yang saat ini bisa mencapai 15 persen dan adanya depresiasi rupiah,” kata Pahala, dikutip AVIATREN dari Kompas.com, Senin (13/8/2018).

“Mungkin kami perlu melakukan perhitungan ulang, apakah masih bisa break even tadi,” imbuh Pahala.

Berdasarkan capaian semester I 2018, Garuda Indonesia masih mencatatkan rugi bersih 114 juta dollar AS yang turun signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 284 juta dollar AS. Garuda Indonesia juga meraih pertumbuhan 5,9 persen sepanjang enam bulan pertama tahun ini, yakni 1,9 miliar dollar AS dari periode yang sama sebelumnya tahun 2017 sebesar 1,8 miliar dollar AS.

Meski menghadapi tantangan kenaikan bahan bakar avtur dan depresiasi nilai tukar rupiah, Pahala menekankan terus melakukan upaya di internal Garuda Indonesia agar tetap memiliki kinerja yang baik. Salah satu upaya yang dimaksud adalah dengan efisiensi untuk kegiatan-kegiatan yang bisa ditekan.

“Strategi kami tentunya meningkatkan utilisasi pesawat dan melakukan negosiasi untuk leasing pesawat yang kami miliki. Lalu jaga kualitas produk kami, terutama OTP (On Time Performance),” tutur Pahala.

Selain itu, Garuda Indonesia juga mendorong diversifikasi pendapatan di luar kegiatan penerbangan. Di antaranya peningkatan pendapatan dari sektor katering, Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) di GMF, hingga kargo.

“Kami berharap kinerja GMF terus meningkat. Di luar pendapatan daeri penumpang seperti kargo, diharapkan tahun ini bisa tumbuh di atas 10 persen. Kalau bisa di atas 15 persen,” pungkas Pahala.