Bos EasyJet ke Bos Ryan Air: Urusi Maskapaimu Sendiri

Bos Ryan Air sebelumnya melontarkan pendapat bahwa EasyJet seharusnya merger atau rela diakuisisi oleh Wizz Air.
CEO EasyJet, Johan Lundgren

AVIATREN.com – CEO EasyJet, Johan Lundgren, melontarkan komentar pedas terhadap Chief Executive Ryanair Group, Michael O’Leary baru-baru ini.

Hal itu dipicu oleh Michael yang sebelumnya sempat mengatakan bahwa maskapai penerbangan murah asal Inggris tersebut harus melakukan merger atau rela diakuisisi oleh maskapai penerbangan asal Hungaria, Wizz Air.

Langkah tersebut, menurut Michael, bisa membantu EasyJet agar tetap beroperasi sebagaimana mestinya di tengah pandemi Covid-19, seperti banyak maskapai penerbangan lainnya yang telah melakukan konsolidasi.

“(Omongan Michael) tak masuk akal. Saya menyarankan siapapun yang menjalankan bisnis maskapai penerbangan untuk fokus mengurusi maskapainya sendiri, alih-alih berspekulasi tentang maskapai penerbangan lainnya,” kata Lundgren dalam sebuah wawancara.

“Sebab, mereka (Michael) sejatinya tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam perusahaan (yang dikomentari) tersebut,” imbuh Lundgren.

Menurut Lundgren, langkah konsolidasi antar maskapai penerbangan sendiri sejatinya sudah terjadi di Eropa, pasca banyak maskapai penerbangan yang merugi membatalkan pesanan pesawat atau mengurangi kapasitas armada mereka.

Menentang konsolidasi

Di saat yang sama, EasyJet sendiri, lanjut Lundgren, tidak terbuai atau terlibat dengan konsolidasi apa pun yang terjadi di sana, termasuk dalam bentuk transaksi dengan pihak eksternal.

“Kami tidak menentang jenis aktivitas merger dan akuisisi (M&A) apa pun, tetapi langkah tersebut (apabila dijalankan) harus dapat memberikan nilai lebih bagi pemegang saham, supaya mereka yakin proses M&A akan menghasilkan bisnis yang menguntungkan,” kata Lundgren.

Meski belum ada langkah konsolidasi, Lundgren sendiri mengaku bahwa tak menutup kemungkinan pihaknya bakal mencari perusahaan yang menjadi target konsolidasi di masa depan.

“Kami mungkin saja akan mengobservasi maskapai penerbangan lain, sama seperti maskapai penerbangan lain melihat perusahaan kami. Tidak ada drama sama sekali dalam proses pencarian tersebut,” pungkas Lundgren.

Sekadar informasi, tekanan terhadap EasyJet ini mencuat berkat langkah berani maskapai penerbangan tersebut yang sempat menolak tawaran untuk diambil alih oleh Wizz Air beberapa waktu lalu.

Sebagai gantinya, EasyJet malah memilih untuk mencari dana tambahan sendiri dari investor dengan target 1,7 miliar dolar AS (sekitar Rp 24,2 triliun), supaya tetap dapat beroperasi.

Advertisement