Cathay Pacific di Ujung Tanduk

Karena sepi penumpang, pendapatan Cathay pun tak bisa melampaui utang yang dimiliki, yang tentunya jumlahnya terus bertambah.
Cathay Pacific

AVIATREN.com – Banyak maskapai penerbangan di dunia yang nasibnya terpuruk akibat adanya pandemi Covid-19, salah satunya adalah Cathay Pacific. 

Nasib maskapai asal Hong Kong tersebut dikabarkan berada di ujung tanduk lantaran sepi penumpang. Bahka per November 2021 lalu, Cathay hanya beroperasi dengan 12 persen dari total kapasitas penumpang sebelum pandemi.

Padahal kompetitornya, Singapore Airlines beroperasi dengan 37 persen total kapasitas penumpang sebelum pandemi pada bulan yang sama, dan meningkat menjadi 45 persen di bulan berikutnya.

Hal ini diperparah dengan pembatasan wilayah di sejumlah negara tempat Cathay beroperasi. Per 8 Januari 2022, seluruh penerbangan internasional Cathay ke Australia, Kanada, Filipina, Inggris, dan Amerika Serikat ditangguhkan selama satu bulan ke depan.

Di samping itu, penerbangan transit dari 150 negara juga ikut ditangguhkan seminggu kemudian, sehingga bisnis Cathay semakin terpuruk karena nyaris tak ada penerbangan di Hong Kong, mengingat kebijakan pemerintah yang mewajibkan pelancong untuk karantina selama tiga minggu setibanya di negara tersebut.

Karena sepi penumpang, pendapatan Cathay pun tak bisa melampaui utang yang dimiliki, yang tentunya meningkat seiring berjalannya waktu.

Dihimpun Aviatren dari Simplywall, Selasa (25/1/2022), utang Cathay per Juni 2021 dikabarkan tercatat di angka 61,8 miliar dolar Hong Kong, atau sekitar Rp 113 triliun.

Utang yang terus menumpuk itu pun otomatis menghambat Cathay untuk membayar dividen kepada para pemegang saham preferen mereka. Jika tidak dibayarkan, maka bunga dividen untuk para pemilik saham preferen bakal terus meningkat dari tahun ke tahun, dan tentunya bakal menambah beban utang.

Pada 2025 mendatang, bunganya sendiri bahkan ditaksir bisa mencapai 2 miliar dolar Hong Kong atau sekitar Rp 3,6 triliun, setara dengan kisaran pendapatan bersih Cathay selama lima tahun sebelum pandemi.

Jika masih dalam kondisi seperti ini, Cathay disebut hanya memiliki satu opsi terbaik, yaitu diakuisisi oleh pemerintah China. Dengan begitu, beban utang Cathay bisa tertolong dan Air China juga bisa mengekspansi bisnisnya berkat bantuan pasar yang dimiliki Cathay.

Cathay sendiri dikenal maskapai swasta yang tidak dimiliki oleh pemerintah Hong Kong. Tanpa bantuan pemerintah, atau akusisi oleh pihak China tadi, bisnis Cathay mungkin saja tak bisa membaik, terlebih apabila situasi makin memburuk dan pada akhirnya terancam pailit.

Advertisement