Bos Malaysia Airlines: Beli A380 di Masa Lalu Bukan Kesalahan

Namun hal itu akan berbeda lagi jika diputuskan di masa kini, di mana slot bukan menjadi kendala lagi, dan harga avtur juga semakin tinggi.

AVIATREN.com – Program Airbus A380 berakhir pada Desember 2021 lalu ketika pesawat terakhir dari program tersebut dikirim ke Emirates.

Berakhirnya program ini dipicu oleh beberapa faktor. Selain pandemi Covid-19, alternatif pesawat yang lebih efisien dengan kapsitas bersaing juga menjadi faktor pendukung mengapa pesawat ini ditinggalkan maskapai-maskapai penerbangan.

Ada beberapa maskapai penerbangan yang memiliki pesawat tersebut, salah satunya adalah Malaysia Airlines (MAS).

Seirama dengan maskapai lainnya, MAS mulai memarkirkan A380 mereka, yang berjumlah 6 unit, sejak pandemi Covid-19 berlangsung. Hingga saat ini, pesawat tersebut belum aktif terbang dan masih memenuhi slot garasi MAS.

Malaysia Airlines sendiri menerima seluruh pesawat A380 yang dipesan pada 2003 lalu pada 2012-2013 lalu. Sejak itu hingga 2020, pesawat-pesawat tersebut dipakai hanya sekitar ratusan hingga ribuan penerbangan saja.

Karena dinilai merugikan, MAS kemudian memilih untuk mempensiunkan seluruh armada pesawat “Superjumbo” tersebut dan menjualnya ke sejumlah pihak yang terkait pada Juni 2021 lalu.

Lantas, apakah pesawat A380 awalnya merupakan pesawat yang tepat untuk operasional Malaysia Airlines?

“Ketika kami melakukan investasi di A380, itu adalah keputusan yang tepat dan tidak salah. Sebab, saat itu kami mencoba menyelesaikan masalah slot,” jelas CCO Malaysia Airlines Group, Ahmad Luqman Mohd Azmi, dikutip Aviatren dari SimpleFlying, Kamis (28/4/2022).

“Ada banyak bandara yang tersebar di seluruh dunia, namun masing-masing bandara memiliki slot (lepas landas/terbang) terbatas dan kami tidak bisa mendapatkan slot tersebut. Sebagai solusi, kami tentunya membutuhkan pesawat yang lebih besar, yaitu A380 untuk menampung penumpang yang lebih banyak tanpa hambur-hambur slot,” imbuh Ahmad.

Slot kini tak jadi masalah

Meski demikian, Ahmad menjelaskan bahwa keputusan tersebut, apabila melihat dan menyesuaikan dengan kondisi masa kini, kurang begitu tepat.

Sebab, pesawat bermesin empat tersebut sejatinya tidak lebih efisien dibanding pesawat bermesin dua dan otomatis memakan bahan bakar (avtur) yang tidak sedikit.

Hal ini lantas akan mengurangi efisiensi operasional A380 di tengah harga avtur dan minyak dunia yang meningkat.

Terkait A380 yang dipensiunkan sendiri, Ahmad menyebut bahwa keputusan ini juga dikeluarkan lantaran sudah ada pesawat yang memiliki kapasitas kompetitif namun lebih efisien.

“Mencoba untuk mengisi 500 kursi di A380 lebih sulit apabila dibandingkan dengan mengisi 280 penumpang di A350 dan A330,” jelas Ahmad.

Kapasitas dan efisiensi ini, lanjut Ahmad, lantas menjadi alasan mengapa isu slot di bandara yang awalnya dipermasalahkan, tidak menjadi masalah yang menghambat operasional Malaysia Airlines untuk saat ini.

“Kami percaya pada frekuensi serta kapasitas pesawat, dan kini kami tak lagi melihat banyak masalah slot yang melanda perusahaan kami,” pungkas Ahmad.

Advertisement