Rugi Rp 15 Triliun, Boeing Menyesal Ambil Proyek “Air Force One”

CEO Boeing Dave Calhoun mengaku pihaknya seharusnya tidak mengambil kerja sama program Air Force One lantaran terlalu berisiko di masa depan.
Render grafis B747-8 Air Force One

AVIATREN.com – Pada 2018 lalu, pemerintah Amerika Serikat (AS), lewat Presiden AS Donald Trump menggandeng Boeing untuk mempercantik dan mempercanggih pesawat kepresidenan berdasarkan pesawat 747 via program “Air Force One”.

Program kerja sama yang bernilai 4 miliar dolar AS (sekitar Rp 58 triliun) tersebut kini masih belum rampung dan per kuartal I-2022, Boeing melaporkan bahwa mereka mengalami kerugian senilai 660 juta dolar AS (sekitar Rp 9,5 triliun) terkait biaya ekstra yang dialokasikan untuk program Air Force One.

Dengan adanya biaya yang tak terduga tersebut, kerugian Boeing yang melibatkan program untuk mempercantik serta mempercanggih pesawat Presiden AS itu kini berada di angka 1,1 miliar dolar AS (sekitar Rp 15,9 triliun).

Terkait kerugian ini, CEO Boeing Dave Calhoun sempat mengaku bahwa pihaknya seharusnya tidak mengambil kerja sama program Air Force One lantaran terlalu berisiko di masa depan.

“Air Force One adalah momen dan kerja sama berisiko yang cukup unik, dan mungkin Boeing sebaiknya dari awal tidak ‘mengiyakan’ program tersebut,” jelas Dave, dikutip Aviatren dari CNBC, Rabu (11/5/2022).

“Namun, nasi sudah menjadi bubur, dan kami harus berkomitmen dan bakal membuat pesawat terbaik dari program Air Force One. Selain itu, kami juga harus rela dan menyadari berbagai biaya ekstra yang melibatkan program tersebut,” imbuh Dave.

Seperti diketahui, program Air Force One terbaru sendiri disepakati ketika masa kepemipinan Presiden AS Donald Trump pada 2018 lalu. Kala itu, CEO Boeing masih dijabat oleh Dennis Muilenburg, sebelum dia dipecat pada Desember 2019 lalu gara-gara kecelakaan yang menimpa 737 Max.

Di dalam peraturan kerja sama dengan pemerintah AS tersebut, dijelaskan bahwa seluruh biaya ekstra dan kerugian yang terjadi selama masa pengembangan program Air Force One harus ditanggung oleh Boeing, bukan pemerintah AS.

Adapun uang program 4 miliar AS atau sekitar Rp 58 triliun tadi diproyeksikan hanya bakal cukup untuk mendanai program pesawat Air Force One hingga 2024 mendatang, tahun di mana pesawat 747 Air Force One pertama tadinya bakal dikirimkan Boeing.

Namun, menurut beragam kabar, Boeing mengatakan bahwa pesawat untuk presiden AS tersebut bakal mengalami penundaan (delay) pengiriman hingga sekitar 2 tahun.

Di samping itu, banyak pula laporan yang menyebut bahwa pesawat Air Force One pertama yang sudah dipercantik bakal terbang perdana setidaknya pada awal 2025 mendatang, dan seluruh penundaan ini tentunya bakal menguras dana Boeing.

Advertisement