Kerja Sama Garuda-Saudia, Penumpang Umrah Bisa Berangkat dan Pulang dengan Maskapai Berbeda

AVIATREN.com – Kerja sama yang diperluas antara Garuda Indonesia dan Saudia bakal memberikan fleksibilitas lebih besar bagi penumpang Umrah dari Indonesia.

Salah satu skema yang dimungkinkan adalah penumpang berangkat menuju Arab Saudi menggunakan Saudia, kemudian pulang ke Indonesia menggunakan Garuda Indonesia, atau sebaliknya.

Hal tersebut disampaikan Arved von zur Muehlen, Chief Commercial Officer Saudia dijumpai AVIATREN di Jakarta, Kamis (27/8/2026), menjelaskan manfaat kerja sama yang tengah dikembangkan bersama Garuda.

“Bahkan untuk Umrah, Anda bisa berangkat menggunakan Saudia dan pulang dengan Garuda. Ini memberikan lebih banyak fleksibilitas dan itulah yang ingin kami capai,” kata Muehlen.

Fleksibilitas tersebut akan didukung dengan perluasan kerja sama codeshare kedua maskapai. Saat ini, Garuda dan Saudia disebut memiliki sekitar 10-15 codeshare. Ke depan, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi ratusan seiring semakin terintegrasinya jaringan kedua maskapai.

Saudia mengatakan hampir seluruh jaringan Garuda dan Saudia yang memungkinkan koneksi akan dimasukkan dalam skema codeshare.

Haji dan umrah jadi fondasi kerja sama

Pasar Haji dan Umrah sebenarnya bukan hal baru dalam hubungan Garuda dan Saudia. Kedua maskapai sebelumnya sudah memiliki kerja sama dan melayani kebutuhan perjalanan antara Indonesia dan Arab Saudi.

Saudia menyebut trafik Haji dan Umrah yang sudah terbentuk tersebut sebagai salah satu fondasi untuk membawa kemitraan kedua maskapai ke tahap berikutnya.

Indonesia sendiri dipandang sebagai pasar yang penting bagi Saudia. Selain memiliki populasi Muslim yang besar, Indonesia memiliki Garuda sebagai maskapai nasional dengan jaringan penerbangan domestik dan internasional. Dengan memperdalam kerja sama, kedua maskapai ingin memberikan lebih banyak pilihan perjalanan bagi penumpang, termasuk jemaah Umrah.

Skema tersebut memungkinkan perjalanan pergi dan pulang tidak harus menggunakan maskapai yang sama. Penumpang bisa memanfaatkan penerbangan Saudia untuk salah satu perjalanan dan Garuda untuk perjalanan lainnya.

Jadwal Garuda dan Saudia bakal diselaraskan

Kerja sama Garuda-Saudia tidak berhenti pada penambahan codeshare. Kedua maskapai juga berencana menyelaraskan jaringan dan jadwal penerbangan.

Garuda Indonesia dan Saudia menandatangani Joint Business Framework Agreement di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Setelah memperoleh kekebalan antitrust (antitrust immunity), Garuda dan Saudia akan melakukan perencanaan jaringan secara lebih terintegrasi, termasuk menentukan jadwal hingga membahas penerbangan yang dioperasikan masing-masing maskapai.

Tujuannya adalah membuat waktu perpindahan antarpenerbangan seoptimal mungkin sehingga perjalanan penumpang menjadi lebih mulus. Kedua maskapai juga berencana melakukan perencanaan jaringan dari musim ke musim agar jadwal penerbangan Garuda dan Saudia bisa saling terhubung.

Integrasi tersebut turut menyentuh operasional di bandara. Saudia mengatakan Garuda perlu beroperasi dari Terminal 1 Bandara Jeddah, sama dengan terminal yang digunakan Saudia. Dengan berada di terminal yang sama, penumpang yang melanjutkan perjalanan tidak perlu berpindah terminal.

Konsep serupa juga ingin diterapkan di Jakarta agar penerbangan kedua maskapai berada di terminal yang sama.

Bukan cuma untuk umrah

Meski Haji dan Umrah menjadi salah satu fondasi kerja sama, Garuda dan Saudia juga membidik konektivitas yang lebih luas.

Jaringan kedua maskapai dinilai saling melengkapi. Garuda memiliki jaringan di Indonesia serta konektivitas menuju Australia dan kawasan Asia, sementara Saudia memiliki jaringan menuju Eropa, Afrika, kawasan Gulf Cooperation Council (GCC), dan berbagai kota di Arab Saudi.

Melalui integrasi tersebut, penumpang Garuda dari Indonesia nantinya dapat memanfaatkan jaringan Saudia untuk melanjutkan perjalanan menuju berbagai destinasi di Eropa dan Afrika.

Sebaliknya, penumpang Saudia dapat memanfaatkan jaringan Garuda untuk melanjutkan perjalanan menuju berbagai kota di Indonesia, kawasan Asia, hingga Australia.

Kedua maskapai juga berencana mengintegrasikan manfaat bagi pelanggan loyal, termasuk menjajaki pengakuan terhadap anggota program loyalitas serta akses dan penggunaan lounge. Namun, integrasi lebih dalam tersebut masih bergantung pada diperolehnya antitrust immunity.

Saudia menyebut izin tersebut sebagai tahapan penting sebelum kedua maskapai dapat membahas secara detail mengenai segmen pelanggan, jadwal, dan perencanaan jaringan bersama.

Saudia berharap tahapan tersebut dapat diselesaikan secepatnya, dengan target sekitar empat hingga lima minggu. Setelah itu, proses penyelarasan jaringan Garuda dan Saudia dapat mulai dilakukan secara lebih mendalam.