“Auto-Feather Failure”, Momok bagi Pesawat Baling-baling

Baling-baling di mesin pesawat C-130 Hercules.
Baling-baling di mesin pesawat C-130 Hercules.

AVIATREN.com – Salah satu momok yang dihadapi dalam pesawat turboprop (mesin baling-baling) atau piston adalah autofeather failure atau kegagalan fungsi otomatis bilah baling-baling berputar segaris dengan aliran udara manakala mesin mati.

Seperti diketahui, pesawat turboprop mengandalkan baling-baling sebagai sumber tenaga untuk melaju (thrust). Sudut masing-masing bilah baling-baling yang berputar itulah yang menghasilkan tenaga sehingga memungkinkan pesawat melaju.

Saat melaju, bilah baling-baling menghadap ke depan untuk menghasilkan daya dorong. Namun, jika mesin mati dan baling-baling berhenti berputar, sudut bilah baling-baling yang menghadap ke depan (penampang luas di depan) justru akan menghasilkan drag atau daya hambat.

Tentunya, jika ada daya hambat di satu baling-baling, hal itu membuat laju pesawat jadi tidak normal untuk pesawat dengan baling-baling lebih dari satu.

Contoh baling-baling dalam tiga posisi, idle speed (berputar tapi tidak menghasilkan daya dorong), feather, dan unfeatherd dalam pesawat Antonov An-140-100.
Contoh baling-baling dalam tiga posisi, idle speed (berputar tapi tidak menghasilkan daya dorong), feather, dan unfeatherd dalam pesawat Antonov An-140-100.

“Itu suatu kelemahan pesawat dengan propeller. Feather motor atau servo-nya fail (gagal bekerja),” ujar Yon Karyono, airworthiness inspector dan praktisi dunia penerbangan, dikutip AVIATREN dari Kompas.com, Selasa (6/9/2016).

Yon menambahkan, jika motor atau servo tidak bisa memutar tepi blade (bilah baling-baling) jadi segaris dengan dynamic airflow (aliran udara dinamis), bilah baling-baling justru akan melawan dynamic airflow atau menghambat laju.

“Kalau bilah propeller malah mengarah ke arah datangnya angin dari depan, induced drag speed akan besar. Akibatnya, pesawat jadi melintir,” kata Yon.

Ia pun mencontohkan kasus jatuhnya Hercules C-130 di Condet, Jakarta Timur, pada 5 Oktober 1991 lalu sebagai contoh kasus kegagalan autofeather. Kecelakaan yang menelan 135 korban tewas ini terjadi setelah C-130 tersebut lepas landas dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma saat perayaan HUT ke-46 ABRI.

Kecelakaan pesawat ATR-72 milik Transasia penerbangan GE235 di Taiwan pada 4 Februari 2015 lalu juga diduga disebabkan oleh autofeather. Pilot diduga mematikan mesin yang salah sehingga kedua baling-baling dalam posisi feather yang membuat pesawat kehilangan daya dorong dan daya angkat.

Seperti dayung

Prinsip feather ini mengikuti dayung perahu. Jika penampang luas dayung menghadap ke depan, tangan akan terasa berat menahan dayung, berbeda jika dayung diarahkan menyamping, sisi menghadap ke depan searah dengan laju perahu, maka tidak terjadi hambatan yang besar.

Dengan bilah dalam posisi feather, pesawat baling-baling diharapkan bisa mendapatkan aliran udara yang dinamis sehingga bisa gliding (terbang tanpa mesin) lebih jauh dan lebih lama lagi.

Fitur autofeather pertama kali dipasang dalam pesawat Martin 4-0-4 yang menggunakan dua mesin piston baling-baling. Sistem tersebut didesain untuk secara otomatis membuat bilah baling-baling dalam posisi feather jika mesin mati saat take off atau climb.

Fitur itu pun juga diadopsi dalam pesawat-pesawat turboprop saat ini, seperti ATR-72, Dash-8, atau Hercules C-130, dan sejenisnya.

Advertisement