A380 Pertama Emirates Dipreteli, Didaur Ulang Jadi Furnitur

Pesawat ini telah terbang lebih dari 50.000 jam, dan kini nasibnya akan berubah menjadi furnitur atau hiasan rumah.
Airbus A380 Emirates.

AVIATREN.com – Emirates berencana untuk mempreteli pesawat Airbus A380 pertamanya yang kini berusia 14 tahun di kampung halamannya, Dubai.

Nantinya, komponen yang dibongkar bakal didaur ulang untuk dipercantik alias menjalani proses upcycling melalui perusahaan pendaur-ulang pesawat, Falcon Aircraft Recycling.

Perusahaan ini bakal mendaur ulang komponen pesawat A380, seperti badan pesawat dan komponen kabin, menjadi furnitur atau benda-benda yang layak dikoleksi dari material pesawat.

Contoh benda-benda daur ulang furnitur itu antara lain meja yang terbuat dari roda pesawat, lemari dari kereta dorong, hiasan dinding dari jendela pesawat, hingga mini bar di kabin A380.

Adapun komponen yang bakal dicopot dari pesawat tersebut diperkirakan bakal berjumlah 190 ton. Rencananya, komponen yang tidak bisa di-upcycling bakal dihancurkan dan diproses untuk menjadi barang lain, alias bakal melalui proses recycling, apabila diperlukan.

Emirates berencana untuk menjual komponen yang dicopot dan telah menjalani proses upcycling tersebut secara bertahap ke berbagai pihak yang tertarik.

Keuntungan dari penjualan tersebut lantas bakal disumbangkan ke pihak yang membutuhkan. Meski demikian, jadwal penjualan komponen-komponen yang di-upcycling tersebut belum dikuak ke publik.

“Melalui inisiatif ini, pelanggan dan penggemar kami dapat membawa pulang sepotong sejarah penerbangan sambil menyimpan komponen berharga yang berasal dari pesawat A380, sekaligus berkontribusi untuk acara amal melalui Emirates Airline Foundation,” kata President of Emirates, Tim Clark dalam sebuah pernyataan.

“Ini adalah solusi yang tepat untuk mempensiunkan pesawat A380 kami yang ikonik dan elegan,” pungkas Clark.

Telah terbang nyaris 50.000 jam

Berdasarkan data ch-aviation, pesawat Airbus A380 pertama Emirates sendiri memiliki kode registrasi A6-EDA.

Pesawat ini telah menjalankan operasi penerbangan nyaris 50.000 jam, atau tepatnya selama 49,632 jam (5,66 tahun), dan memiliki nilai pasar 30,94 juta dolar AS (sekitar Rp 441 miliar).

Dalam operasinya, Emirates mengklaim pesawat tersebut telah menyelesaikan 6,319 penerbangan dan menyambangi 62 bandara di seluruh dunia, di mana penerbangan komersil pertamanya adalah rute Dubai – New York pada tahun 2008.

Sementara itu, penerbangan terakhirnya adalah rute Singapura – Dubai pada 8 Maret 2020 lalu.

Ketika sampai di bandara tujuan, pesawat tersebut langsung dikirimkan ke Emirates Engineering Center di Dubai World Central Airport.

Di sini, komponen-komponen yang bisa dipakai kembali, seperti mesin, roda pesawat, komponen kokpit, dan lain sebagainya dicopot dari pesawat tersebut.

Advertisement