Utang Rp 112 Triliun AirAsia X “Disulap” Jadi Keuntungan

Rampungnya restrukturisasi utang menjadi "angin segar" untuk membangun kembali bisnis AirAsia X, pasca dihantam pandemi Covid-19.
A330 AirAsia X (D7)/Jujug Spoting

AVIATREN.com – Setelah dilakukan sejak November 2021 lalu, proses restrukturisasi utang maskapai AirAsiaX akhirnya rampung pada pertengahan Maret 2022 kemarin.

Dengan selesainya proses restrukturisasi tersebut, AirAsia X berencana mencatat setidaknya 33 miliar ringgit, atau sekitar Rp 112 triliun dari beban utang yang sebelumnya dimiliki, menjadi keuntungan di laporan keuangan di kuartal mendatang.

CEO AirAsia X, Benjamin Ismail mengatakan bahwa rampungnya restrukturisasi utang bisa menjadi “angin segar” untuk membangun kembali bisnis AirAsia X, pasca dihantam pandemi Covid-19.

“Kami kini bakal kembali berbisnis dengan status dan kas perusahaan yang sehat,” jelas Ismail, dikutip Aviatren dari Forbes, Minggu (27/3/2022).

Sejauh ini, Ismail mengatakan bahwa segmen kargo AirAsia X menjadi penolong selama proses pemulihan bisnis maskapai tersebut beberapa bulan belakangan.

Ke depannya, ia berharap AirAsia X dapat menghasilkan lebih banyak pendapatan dari seluruh segmen bisnisnya seiring dengan terpenuhinya permintaan konsumen, baik itu dari segmen kargo maupun penumpang.

“Dalam dua bulan ke depan, kami akan memulai kembali layanan penumpang ke beberapa tujuan internasional lainnya sejalan dengan pembukaan kembali perbatasan,” imbuh Ismail.

Sebelumnya, rencana restrukturisasi utang AirAsia X diumumkan dan disetujui oleh para kreditur dan pemasok maskapai tersebut pada November 2021 lalu. Kala itu, mereka berencana untuk membayar 0,5 persen dari total utang sekitar 8 miliar dolar AS (sekitar Rp 114 triliun).

Proses restrukturisasi utang sendiri melibatkan pembatalan sejumlah kontrak yang sudah terjalin dengan sejumlah mitra, salah satunya mengurangi pesanan pesawat A330neo dari 78 unit ke 15 unit, serta A321XLR dari 30 unit menjadi 20 unit dari produsen pesawat Airbus.

Adapun AirAsia X merupakan satu dari sekian banyak maskapai penerbangan yang bisnis operasionalnya terdampak Covid-19 dan memilih untuk melakukan restrukturisasi utang perusahaan.

Selain maskapai milik konglomerat Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun tersebut, Philippine Airlines dan Singapore Airlines juga sempat terdampak Covid-19, namun kini mulai kembali pulih dan bangkit dengan strateginya masing-masing.

Advertisement