FAA Sebut Dokumen Sertifikasi Boeing 787 Belum Lengkap

B787-dreamliner
FAA dikabarkan mengembalikan dokumen yang diperlukan untuk proses sertifikasi pesawat 787 Dreamliner kepada Boeing, karena belum lengkap.
Boeing 787 Dreamliner

AVIATREN.com – Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) dikabarkan telah mengembalikan dokumen yang diperlukan untuk proses sertifikasi pesawat 787 Dreamliner kepada Boeing.

Menurut sejumlah sumber industri, hal itu terpaksa dilakukan FAA karena persyaratan dokumen sertifikasi pesawat tipe itu, yang dikirimkan Boeing pada April lalu, disebut belum lengkap.

Belum diketahui apakah pengembalian dokumen persyaratan sertifikasi 787 Dreamliner ke Boeing ini bakal berdampak pada penundaan pengiriman pesawat tersebut atau tidak.

Namun, sumber tadi mengeklaim bahwa belum ada informasi yang pasti terkait penundaan pengiriman pesawat 787 Dreamliner.

Pihak FAA sendiri konon menolak berkomentar terkait kabar yang berasal dari sumber industri ini. Mereka hanya mengatakan bahwa proses sertifikasi 787 Dreamliner akan sangat bergantung pada aspek keselamatan pesawat.

Sama seperti FAA, Boeing juga belum memberikan pernyataan terkait kabar terbaru ini. Namun, CEO Boeing Dave Calhoun sebelumnya mengatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan proses pengiriman pesawat 787 Dreamliner kembali kepada konsumen mereka.

Selain itu, Dave juga mengeklaim bahwa pihaknya sedang bekerja sama dengan FAA untuk menyelesaikan masalah seputar pesawat 787 generasi terbaru ini.

Sekadar informasi, pengiriman pesawat 787 disetop sejak 2021 lalu. Hal ini disebabkan karena FAA menilai pesawat tersebut dilanda masalah produksi, terutama pada elemen composite atau perekat komponen pesawat.

Hingga saat ini, kelanjutan pengiriman 787 masih belum jelas dan beragam laporan mengeklaim bahwa pengiriman pesawat tersebut bakal dilanjutkan pada pertengahan hingga akhir tahun ini (2022).

Dengan adanya hambatan ini kerugian tentunya ada di Boeing, di mana mereka disebut harus merugi sekitar dan 5,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 80,7 triliun, sebagaimana dirangkum Aviatren dari CNBC, Senin (16/5/2022).

Di samping itu, mereka juga harus rela menyiapkan ruang ekstra untuk pesawat 787 Dreamliner, yang jumlahnya konon ada 100 unit, lantaran memang belum mendapatkan sertifikasi laik terbang dan tentunya belum bisa dikirimkan.

Advertisement