Pertamina Bangun Kilang Bioavtur di Cilacap, Kapasitas 6.000 Barel per Hari

AVIATREN.com – PT Pertamina (Persero) mulai memproduksi bahan bakar penerbangan ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui proyek Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah.

Proyek ini menjadi bagian dari enam proyek hilirisasi sektor pengolahan sumber daya alam yang diluncurkan oleh sovereign wealth fund Danantara Indonesia, dengan total nilai investasi 7 miliar dollar AS (sekitar Rp 112 triliun, kurs Rp 16.000).

Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani mengatakan proyek-proyek tersebut termasuk dalam 18 proyek prioritas pemerintah di sektor hilirisasi tahun ini dengan total investasi mencapai Rp 618 triliun.

“Presiden menekankan percepatan proyek hilirisasi yang berdampak langsung kepada masyarakat,” ujar Rosan dalam peluncuran proyek tersebut.

Olah minyak jelantah jadi bioavtur

Direktur Pertamina Emma Sri Martini menjelaskan, fasilitas kilang di Cilacap mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar penerbangan.

Saat ini, fasilitas tersebut telah memproduksi sekitar 3.000 barel per hari, dan ditargetkan meningkat menjadi 6.000 barel per hari dalam waktu mendatang.

Dalam keterangan terpisah, proyek Hilirisasi Fase-1 Biorefinery Cilacap dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 6 ribu barel per hari minyak jelantah. Saat ini, fasilitas tersebut telah menghasilkan 27 kiloliter (KL) SAF per hari.

Produksi tersebut diproyeksikan meningkat signifikan menjadi 887 KL SAF per hari pada 2029.

Dukung transisi energi dan kurangi impor

Proyek ini ditujukan untuk memperkuat sektor energi dan penerbangan nasional sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.

Pemerintah berharap produksi bioavtur di Cilacap dapat membantu mengurangi ketergantungan impor avtur konvensional, serta mendukung Peta Jalan penggunaan SAF di Indonesia.

Selain itu, proyek ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong swasembada energi dan percepatan transisi energi.

Biorefinery Cilacap diperkirakan mampu menurunkan emisi hingga 600 ribu ton setara CO2 per tahun.

Dari sisi ekonomi, proyek ini disebut berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga sekitar Rp 199 triliun per tahun.

Selain itu, proyek ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi wilayah sekitar melalui penyerapan tenaga kerja tidak langsung hingga 5.900 orang, peningkatan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta pemberdayaan masyarakat.