AVIATREN.com – Ikatan Pilot Indonesia (IPI) mengecam keras insiden penembakan yang menewaskan dua kru penerbangan Smart Air di wilayah Papua Selatan dan mendesak pemerintah memperkuat keselamatan serta perlindungan penerbangan di daerah konflik.
Kejadian itu terjadi saat pesawat mendarat di Lapangan Terbang Korowai, Kabupaten Boven Digoel, pada Rabu (11/2), ketika pilot dan kopilot ditembak oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB).
Ketua IPI, Capt. Muammar Reza, menyatakan dalam konferensi pers di Tangerang bahwa aksi penembakan adalah pelanggaran berat terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, serta aturan internasional keamanan penerbangan yang diatur dalam ICAO Annex 17 dan Chicago Convention 1944.
“Penerbangan adalah moda transportasi strategis nasional yang vital bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Ia menghubungkan masyarakat di seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil, untuk memenuhi kebutuhan mobilitas, medis, dan ekonomi,” kata Reza dilansir Kompas.com.
Reza menegaskan bahwa pilot dan seluruh kru adalah garda terdepan keselamatan penerbangan yang harus dilindungi sepenuhnya oleh negara saat menjalankan tugas, termasuk saat beroperasi di daerah yang memiliki risiko keamanan tinggi seperti Papua.
Desakan ke pemerintah dan regulator
Dalam pernyataannya, IPI meminta Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, untuk turun tangan dan mengambil langkah tegas dalam menjamin keamanan penerbangan, termasuk perlindungan terhadap pilot, kru, dan infrastruktur penerbangan nasional yang merupakan objek vital negara berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2004.
Selain itu, IPI juga meminta Komite Nasional Keselamatan Penerbangan (KNKP) untuk segera mengambil tindakan pencegahan yang konkret, termasuk kemungkinan penghentian sementara operasional bandara yang berisiko tinggi sampai keamanan penerbangan benar-benar terjamin.
“Kami menghimbau kepada seluruh pilot Indonesia, khususnya yang bertugas di daerah dengan risiko keamanan tinggi — untuk meningkatkan kewaspadaan dan saling menjaga satu sama lain,” kata Reza.
Dukungan evaluasi sistemik
IPI menekankan bahwa tragedi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi seluruh lembaga terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas sistem keselamatan penerbangan di Indonesia, khususnya di daerah konflik. Evaluasi itu dinilai penting agar insiden serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.
“Semoga tragedi ini menjadi yang terakhir dalam sejarah penerbangan di Indonesia,” ujar Capt. Reza sambil menyampaikan belasungkawa dan simpati kepada keluarga kedua almarhum pilot.
Dalam insiden itu, pilot dan kopilot Smart Air tewas ditembak oleh KKB saat mendarat di Bandara Korowai dari penerbangan yang membawa penumpang. Penembakan ini tercatat sebagai salah satu kejadian paling tragis yang menimpa awak pesawat sipil di wilayah dengan gangguan keamanan tinggi di Indonesia.
