AVIATREN.com – Selama puluhan tahun, kokpit pesawat komersial selalu diisi oleh dua pilot. Keduanya bekerja sama untuk mengendalikan pesawat, memantau instrumen, hingga mengambil keputusan dalam kondisi darurat.
Namun perkembangan teknologi otomatisasi membuat sebagian pihak di industri penerbangan mulai membayangkan masa depan yang berbeda. Produsen pesawat asal Eropa, Airbus, bahkan menilai bahwa secara teknologi pesawat komersial sebenarnya bisa diterbangkan oleh satu pilot saja.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Christian Scherer, Chief Commercial Officer Airbus. Ia mengatakan bahwa dari sisi teknologi, konsep tersebut sudah memungkinkan.
“Secara teknologi, pesawat bisa diterbangkan dengan satu pilot,” kata Scherer dalam wawancara mengenai masa depan kokpit pesawat.
Meski demikian, ia menekankan bahwa tantangan terbesar bukan lagi teknologi, melainkan penerimaan regulator dan penumpang terhadap konsep tersebut.
Otomatisasi pesawat semakin canggih
Pesawat modern saat ini sudah dilengkapi berbagai sistem otomatisasi yang sangat canggih. Mulai dari autopilot, sistem manajemen penerbangan (flight management system), hingga teknologi pendaratan otomatis.
Sebagian besar fase penerbangan sebenarnya sudah dapat dibantu oleh komputer pesawat.
Karena itu, sejumlah perusahaan dan regulator mulai mengkaji konsep Single Pilot Operations (SPO) atau penerbangan dengan satu pilot aktif di kokpit.
Dalam skenario ini, dua pilot masih berada di pesawat, tetapi hanya satu yang mengendalikan pesawat pada fase tertentu seperti saat jelajah (cruise), sementara pilot lain dapat beristirahat.
Dengan dukungan teknologi kokpit cerdas dan sistem pemantauan pilot, konsep ini dianggap dapat mengurangi beban kerja sekaligus meningkatkan efisiensi operasional maskapai.

Kebutuhan pilot terus meningkat
Gagasan tersebut juga muncul di tengah kekhawatiran industri penerbangan mengenai kekurangan pilot di masa depan.
Menurut laporan Boeing Pilot and Technician Outlook 2025, industri penerbangan global akan membutuhkan sekitar 660.000 pilot baru dalam 20 tahun ke depan untuk memenuhi pertumbuhan perjalanan udara dan menggantikan pilot yang pensiun.
Artinya, maskapai di seluruh dunia perlu menambah lebih dari 30.000 pilot baru setiap tahun agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.
Pertumbuhan armada pesawat dan peningkatan jumlah penumpang membuat kebutuhan pilot terus meningkat, terutama di kawasan Asia-Pasifik yang diprediksi menjadi pasar penerbangan terbesar dalam beberapa dekade ke depan.
Menuai penolakan dari komunitas pilot
Meski terlihat menjanjikan dari sisi teknologi dan efisiensi, konsep kokpit satu pilot menuai penolakan keras dari organisasi pilot di berbagai negara.
Sejumlah organisasi seperti International Federation of Air Line Pilots’ Associations (IFALPA) dan Air Line Pilots Association (ALPA) menilai bahwa sistem dua pilot merupakan standar keselamatan yang tidak boleh dikurangi.
Menurut mereka, keberadaan dua pilot di kokpit memungkinkan adanya proses cross-check untuk meminimalkan kesalahan manusia, membagi beban kerja, serta menyediakan cadangan jika salah satu pilot mengalami masalah kesehatan.
Serikat pilot juga menyoroti risiko baru seperti kelelahan pilot, ancaman keamanan siber, hingga potensi kegagalan sistem otomatis jika hanya satu pilot yang berada di kokpit.
Regulasi masih jadi penghalang
Selain penolakan dari komunitas pilot, regulasi juga menjadi hambatan utama penerapan konsep ini.
Otoritas penerbangan Eropa, European Union Aviation Safety Agency (EASA), bahkan pernah menyimpulkan bahwa teknologi saat ini belum mampu membuktikan tingkat keselamatan yang setara dengan sistem dua pilot.
Karena itu, hingga saat ini belum ada jadwal pasti kapan penerbangan komersial dengan satu pilot dapat diterapkan secara luas.
Meski masih jauh dari implementasi nyata, diskusi tentang kokpit satu pilot menunjukkan bagaimana teknologi terus mengubah industri penerbangan. Sejarah penerbangan sendiri menunjukkan bahwa jumlah kru kokpit telah berkurang secara signifikan. Pada era pesawat awal, kokpit bisa diisi hingga lima orang, termasuk navigator dan flight engineer.
Kini, teknologi memungkinkan pesawat besar diterbangkan hanya oleh dua pilot.
Jika otomatisasi terus berkembang, bukan tidak mungkin suatu hari nanti konsep kokpit dengan satu pilot akan menjadi bagian dari evolusi berikutnya dalam dunia penerbangan.
