AVIATREN.com – Isu mahalnya harga tiket pesawat terus menjadi perbincangan di masyarakat. Di tengah kebutuhan mobilitas yang tinggi, tarif penerbangan dinilai masih sulit dijangkau sebagian penumpang. Pelaku industri menyebut persoalan ini bukan semata soal kebijakan harga, melainkan dampak dari struktur biaya operasional yang masih tinggi dan keterbatasan jumlah pesawat.
Chairman Indonesia Aviation Association (IAA) Faik Fahmi mengatakan bahwa maskapai saat ini menghadapi tekanan biaya yang besar, sehingga ruang untuk menurunkan harga tiket sangat terbatas.
“Secara jujur, kita menghadapi tantangan yang tidak ringan. Biaya operasional penerbangan yang cenderung tinggi sangat membatasi ruang bagi maskapai untuk menawarkan tarif yang lebih kompetitif,” ujar Faik saat peluncuran IAA di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Menahan laju pemulihan
Menurut Faik, mahalnya tiket tidak hanya memengaruhi pasar penerbangan domestik, tetapi juga menahan laju pemulihan penerbangan internasional. Salah satu faktor utama yang memperberat kondisi ini adalah jumlah armada pesawat yang belum kembali ke level sebelum pandemi.
Ia mencontohkan, pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, jumlah pesawat yang beroperasi hanya sekitar 368 unit. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kondisi pada 2018, ketika sekitar 740 pesawat melayani penerbangan di seluruh Indonesia.
“Dengan jumlah pesawat yang jauh berkurang, kapasitas angkut penumpang otomatis menurun. Ini membuat harga tiket sulit ditekan,” kata Faik.

Ketimpangan antara permintaan dan ketersediaan pesawat inilah yang membuat isu tiket pesawat mahal terus berulang. Ketika permintaan perjalanan meningkat, sementara pasokan kursi terbatas, maskapai tidak memiliki cukup ruang untuk menurunkan tarif.
“Dengan supply yang masih terbatas, demand dan supply jadi tidak seimbang. Ini salah satu penyebab utama kenapa isu tiket mahal terus muncul,” ujarnya.
Armada terbatas
Keterbatasan armada juga berdampak pada frekuensi penerbangan. Banyak rute belum bisa kembali ke tingkat layanan ideal, sehingga jaringan penerbangan nasional masih terkonsentrasi di beberapa titik utama, seperti Jakarta dan Bali. Sementara daerah lain belum sepenuhnya menikmati pemulihan konektivitas udara.
Di luar persoalan armada, industri penerbangan juga menghadapi tekanan global yang semakin kompleks. Mulai dari tuntutan efisiensi operasional, peningkatan standar keselamatan, perubahan regulasi, hingga agenda keberlanjutan menuju net zero aviation.
“Semua ini saling terkait. Tantangan aviasi itu struktural dan tidak bisa diselesaikan secara parsial,” kata Faik.
Padahal, bagi Indonesia, penerbangan memiliki peran yang sangat strategis. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi lebih dari 280 juta jiwa, pesawat menjadi tulang punggung konektivitas nasional, baik untuk pergerakan manusia, barang, maupun aktivitas ekonomi.
“Ketika pesawat mendarat di daerah terpencil, yang datang bukan hanya penumpang, tapi juga harapan, peluang, dan masa depan,” ujarnya.

Peran strategis
Faik menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan aviasi di tingkat regional bahkan global. Letak geografis yang strategis di persimpangan Asia Pasifik dan Australia, pasar domestik yang besar, pertumbuhan logistik udara, serta potensi pariwisata menjadi kombinasi yang jarang dimiliki negara lain.
“Asia Pasifik adalah pusat pertumbuhan penerbangan dunia, dan Indonesia berada tepat di jantungnya,” jelas Faik.
Namun, ia menegaskan bahwa persoalan utama saat ini bukan lagi soal potensi, melainkan kesiapan ekosistem industri. Tanpa sinergi antara regulator, maskapai, pengelola bandara, dan seluruh pelaku industri, tantangan struktural seperti harga tiket mahal akan terus berulang.
“Pertanyaannya sekarang bukan apakah kita punya potensi, tapi apakah kita siap menyelaraskan langkah untuk mengubah potensi itu menjadi kekuatan nyata,” pungkasnya.
