Livery Air Force One yang Ditetapkan Donald Trump Dimentahkan Joe Biden

Angkatan Udara AS mengatakan desain livery Air Force One yang diusulkan oleh Donald Trump akan menciptakan terlalu banyak panas.

AVIATREN.com – Pemerintahan Joe Biden akan membatalkan skema cat (livery) pesawat kepresidenan AS, Air Force One yang diusulkan oleh mantan Presiden Donald Trump.

Menurut seorang pejabat AS kepada Reuters, Jumat (10/6/2022), US Air Force atau Angkatan Udara AS mengatakan desain livery Air Force One yang diusulkan oleh Donald Trump akan menciptakan terlalu banyak panas untuk pesawat kepresidenan.

Sebelumnya, Air Force One menggunakan livery kombinasi warna biru muda-biru tua, semenjak dipakai oleh Presiden John F. Kennedy. Namun saat wacana pengadaan Air Force One baru (menggunakan pesawat B747-8) muncul di masa pemerintahan Donald Trump, maka livery baru pun dipilih.

Skema warna eksterior Air Force One yang disetujui oleh Donald Trump adalah berwarna putih -biru gelap dengan garis (list) berwarna merah.

“Skema cat Trump tidak dipertimbangkan karena butuh rekayasa, waktu, dan biaya tambahan,” kata seorang pejabat pemerintah yang tidak mau disebutkan namanya.

Belum diketahui desain livery seperti apa yang akan digunakan Joe Biden pada pesawat B747 Air Force One yang baru nanti.

Angkatan Udara AS belum memberikan tanggapannya secara resmi.

Render grafis Air Force One berbasis B747-8.

Seorang juru bicara Trump, Taylor Budowich, mengkritik keputusan itu dan berkata, “tidak mengherankan (Biden) ingin menghapus desain merah, putih, dan biru yang indah untuk Air Force One.”

Seorang juru bicara Angkatan Udara mengatakan warna yang lebih gelap, di antara faktor-faktor lain, di bagian bawah Air Force One “bisa membuat suhu yang melebihi batas kualifikasi saat ini pada sejumlah kecil komponen.”

Pada tahun 2018, Boeing Co menerima kontrak senilai $3,9 miliar untuk membangun dua pesawat 747-8 untuk digunakan sebagai Air Force One oleh presiden AS, yang akan dikirimkan pada Desember 2024.

Pentagon mengatakan tahun ini bahwa pesawat-pesawat itu kemungkinan tidak akan dikirim sampai tahun 2026.

Boeing 747-8 dirancang untuk menjadi Gedung Putih yang mampu terbang dalam skenario keamanan terburuk, seperti perang nuklir, dan dimodifikasi dengan avionik militer, komunikasi canggih, dan sistem pertahanan diri.

Awal pekan ini, pengawas pemerintah mengatakan pesawat menghadapi risiko penundaan lebih lanjut karena pasar tenaga kerja yang ketat untuk mekanik, dan tingkat izin keamanan yang lebih rendah dari perkiraan.

Kebutuhan Boeing untuk beralih ke pemasok alternatif untuk beberapa pekerjaan interior, juga disebut oleh Kantor Akuntabilitas Pemerintah (GAO) AS menambah panjang penundaan pengiriman.

Advertisement