Tiga A330 Garuda Aktif Kembali di 2025, 5 Lagi Menyusul 2026

AVIATREN.com – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) menuntaskan reaktivasi tiga pesawat milik Garuda Indonesia hingga 13 Februari 2026. Ketiga pesawat tersebut merupakan Airbus A330 dengan registrasi PK-GHE, PK-GHF, dan PK-GHI.

Reaktivasi mencakup pekerjaan airframe, dua pekerjaan engine performance restoration, delapan penggantian High Pressure Turbine (HPT) blade, serta empat pekerjaan landing gear. GMF menyebut mayoritas milestone proyek tercapai tepat waktu.

Langkah ini menjadi bagian dari sinergi dalam grup Garuda Indonesia untuk meningkatkan kesiapan operasional armada, terutama pada rute jarak menengah dan jauh yang dilayani pesawat berbadan lebar seperti A330.

Target reaktivasi 2026

Memasuki 2026, GMF menyiapkan lanjutan proyek untuk Garuda Indonesia. Rencana tersebut meliputi reaktivasi lima unit Airbus A330 tambahan, 10 pekerjaan engine maintenance, dua APU overhaul, serta satu landing gear overhaul.

Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi, menyatakan reaktivasi bukan sekadar proyek teknis, melainkan bagian dari komitmen menjaga standar airworthiness pesawat.

“Reaktivasi pesawat ini bukan sekadar penyelesaian proyek, melainkan bagian dari komitmen GMF untuk berkontribusi pada negara melalui dukungan penuh terhadap kesiapan operasional armada Garuda Indonesia dan Citilink. GMF memastikan setiap pesawat yang kembali beroperasi memenuhi standar airworthiness, sehingga dapat memberikan layanan terbaik kepada masyarakat serta memperkuat konektivitas baik domestik maupun internasional,” ujar Andi dalam keterangan yang diterima AVIATREN.

Dengan tambahan armada yang kembali aktif, Garuda diproyeksikan meningkatkan kapasitas penerbangan domestik dan internasional pada 2026.

Penyertaan modal Danantara

Seperti diketahui, sebagai bagian dari konsolidasi Garuda Indonesia Group, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyalurkan penyertaan modal senilai Rp 23,67 triliun.

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 8,7 triliun atau 37 persen dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja Garuda Indonesia, termasuk pemeliharaan dan perawatan pesawat guna memastikan kesiapan operasional armada.

Sementara itu, porsi terbesar yakni Rp 14,9 triliun atau 63 persen diarahkan untuk mendukung operasional Citilink. Dana tersebut terdiri dari Rp 11,2 triliun untuk modal kerja serta Rp 3,7 triliun untuk pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina pada periode 2019–2021.

Penyertaan modal ini menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur keuangan dan meningkatkan kesiapan operasional kedua maskapai.