Garuda Secara Teknis Sudah Bangkrut

A330 Garuda Indonesia (Airbus)

AVIATREN.com – Meski tengah berupaya melakukan restrukturisasi utang, Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan bahwa PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk secara teknis sudah bangkrut, meski belum resmi secara hukum.

Pasalnya, utang Garuda hingga saat ini sudah mencapai 9,75 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 138 triliun, melebihi nilai aset perusahaan pelat merah tersebut yang “hanya” bernilai 6,93 miliar dolar AS atau sekitar Rp 98 triliun.

Dengan begitu, ada selisih angka ekuitas negatif senlai 2,8 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 39,7 triliun, yang sekaligus menjadikan Garuda sebagai perusahaan BUMN dengan sejarah ekuitas paling buruk setelah PT Asuransi Jiwasraya.

“Ini yang sekarang kita sedang berusaha, bagaimana kita bisa keluar dari situasi yang sebenarnya technically bankrupt karena technically semua kewajiban Garuda semuanya sudah tidak dibayar,” ungkap Wirjoatmodjo saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, dikutip Aviatren dari VOAIndonesia, Senin (15/11/2021).

“Bahkan gaji pun mungkin sudah kemudian ditahan,” imbuh pria yang akrab disapa Tiko itu.

Tiko menjelaskan, Garuda sendiri kini memang berada dalam situasi yang sangat sulit, di mana jumlah utang yang sedang tinggi-tingginya tak dibarengi dengan pendapatan yang masuk ke kas perusahaan karena sepinya penumpang akibat pembatasan Covid-19.

Upaya Penyelamatan

Meski demikian, Tiko mengatakan bahwa Kementerian BUMN sedang melakukan beberapa langkah untuk menyelamatkan satu-satunya maskapai penerbangan pelat merah tersebut dengan melakukan restrukturisasi.

Pertama adalah melakukan transformasi bisnis, serta menekan biaya operasional dengan memangkas sejumlah rute internasional dan memaksimalkan rute domestik secara masif.

Kemudian, Garuda juga berencana mengurangi jumlah pesawat yang dimilikinya, dari 202 unit ke kisaran 168 unit. Jenis pesawat juga bakal dikurangi dari 13 menjadi 7 demi menghemat biaya perawatan pesawat.

Langkah lainnya, lanjut Tiko, adalah melakukan negosiasi ulang kontrak pesawat yang diharapkan menyamai benchmark internasional, di mana konsep kontrak pesawat bakal mengusung power by hour.

Ini artinya, Garuda tidak melakukan pembayaran dalam jumlah yang pasti, melainkan berdasarkan jam pemakaian pesawat.

“Lalu, meningkatkan kontribusi kargo, jadi ini dulu juga bisnis yang kurang dilihat, sekarang Pak Irfan (Dirut Garuda) dan tim fokus untuk meningkatkan bailey capacity Garuda, karena ini menjadi bisnis baru yang lebih stabil secara volume dan pendapatannya,” katanya.

Dari sisi rute, Garuda akan memotong jumlahnya secara signifikan dari 237 menjadi 140, dan akan memfokuskan diri pada rute-rute yang super premium.

Pihak Garuda juga akan terus melakukan negosiasi ulang dengan para lessor untuk melakukan restrukturisasi keuangan dengan harapan bisa menurunkan kewajiban perseroan dari 9,75 miliar dolar AS tadi menjadi 2,6 miliar dolar AS.

Renegosiasi tersebut juga akan dilakukan dengan pihak perbankan termasuk Bank Himbara dan Pertamina.

“Kami sedang bernegosiasi secara aktif selama 1-2 bulan terakhir, dengan para lessor, bank termasuk Bank Himbara, Pertamina, dan memang krediturnya harus mengakui bahwa kondisi Garuda memang harus ada pengurangan utang yang signifikan dikarenakan kalau tidak ada pengurangan utang neracanya yang secara teknis sudah bangkrut, tidak akan survive,” pungkas Tiko.