Bandara Kediri Ditargetkan Beroperasi 2023

Ilustrasi proyek pembanguan bandara baru Dhoho Kediri

AVIATREN.com – Pembangunan bandar udara (bandara) baru di wilayah Kediri, Jawa Timur, yang diberi nama Bandara Internasional Dhoho, tampaknya terus dipercepat.

Bahkan, pihak pengembang, yakni PT Gudang Garam mengklaim bandara tersebut ditargetkan bisa beroperasi dan melayani penumpang pada 2023 mendatang.

Saat ini, Direktur PT Gudang Garam, Istata Taswin Siddhartha mengatakan pembangunan bandara memasuki tahapan earthwork yang sudah mencapai 80 persen.

Tidak disebutkan secara rinci bagaimana progres pembangunan bandara tersebut, beigut juga tanggal pasti pembukaan operasional bandara itu.

Yang jelas, apabila nanti sudah beroperasi, Bandara Internasional Dhoho akan memiliki runway sepanjang 3.300 meter dengan lebar landasan 45 meter.

Untuk total luas lahan sendiri mencapai 371 hektar, dengan luas terminal mencapai 18.000 persegi yang diklaim bisa menampung 1,5 juta penumpang tiap tahunnya.

Selain infrastruktur bandara, pihak pengembang juga rencananya bakal membangun akses jalan menuju bandara, yaitu berupa jalan sepanjang 7,2 km yang merupakan bagian dari rangkaian Tol Kediri–Tulungagung sepanjang 37 km. Sehingga total panjang tol tersebut adalah 43 km.

“Daerah di sekitar bandara juga akan tumbuh menjadi pusat perekonomian baru,” kata Istata dalam menyambut kunjungan kerja Menko Marves Luhut Panjaitan dan rombongan, dikutip Aviatren dari Kompas.com, Rabu (1/12/2021).

Sebagai bandara internasional, bandara di Kediri ini nantinya juga bakal melayani penerbangan internasional untuk keperluan ibadah haji dan umroh.

Dibangun dengan kerja sama pemerintah

Sekadar informasi, Bandara Internasional Dhoho dibangun oleh PT Surya Dhoho Investama, yang merupakan anak perusahaan dari PT Gudang Garam.

Tak sendirian, bandara yang berlokasi di Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, itu dibangun melalui skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU).

Selain menghadirkan pilihan baru bagi penumpang, tujuan utama pembangunan bandara ini adalah meningkatkan konektivitas dan menekan disparitas pembangunan di Jawa Timur bagian selatan.

Progres pembangunan bandara ini pun sebelumnya sempat diapresiasi Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan.

“Kami tujuh bulan lalu datang ke sini dengan Pak Sofyan (Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil), progresnya baik sekali. Ini akan punya dampak (positif) di selatan Jawa Timur,” kata Luhut saat mengunjungi lokasi pembangunan bandara beberapa waktu lalu.

Menurut Luhut, setelah adanya bandara ini, masyarakat Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, dan Kediri, tak perlu ke Surabaya untuk mengakses transportasi udara. Apalagi, wilayah itu akan didukung jalan tol untuk mempercepat konektivitas antardaerah.